Wednesday, May 18, 2005

Prologue

Hidup penuh dengan pelajaran.
Kalau setiap akhir hari kita mau merenung, niscaya begitu banyak hal yang dapat kita pelajari dari satu hari yang telah kita lewati. Kesempatan-kesempatan yang terlewatkan, kesedihan dan kegembiraan yang ditimbulkan, kesalahan-kesalahan yang tak boleh terulang lagi, semua sebab akibat, dan masih banyak lagi.
Lewat dari seperempat abad hidupku, aku pun telah memetik begitu banyak pelajaran.
Aku telah melakukan banyak kesalahan, melalui banyak kegagalan, meraih banyak kesuksesan, memperoleh pencerahan-pencerahan.
Aku telah melewati sekian waktu dan proses yang panjang untuk menemukan arti hidupku.
Aku belajar banyak, dari buku-buku, dari orang-orang di sekitarku, dari kejadian demi kejadian yang menimpaku, dari kejadian yang menimpa orang-orang di sekitarku, dari segala yang terlihat kebetulan, bahkan dari hal-hal yang sekilas tak terlihat seperti mengandung pelajaran.
Semua itu untuk apa?
Untukku sendiri? Tentu saja. Bila aku tak pernah tahu untuk apa aku hidup, aku tak akan bisa membuat rencana dan target hidupku. Aku tak akan mempunyai satu tujuan yang ingin aku capai, yang menjadi motivasi setiap langkah yang aku ambil.
Untuk orang lain? Mungkin. Sadar atau tidak, mungkin saja langkah-langkah yang aku tempuh berpengaruh langsung atau tidak langsung terhadap hidup orang lain. Seperti yang ingin Mitch Alborn sampaikan dalam bukunya Five People You Meet in Heaven, hidup kita bersinggungan dengan hidup orang lain. Bila aku tidak mengambil kesimpulan dari proses pembelajaranku bahwa memiliki usaha sendiri lebih menyenangkan daripada bekerja untuk orang lain, orang yang sekarang bekerja untukku akan bekerja di tempat lain, dengan jalan hidup yang berbeda dengan yang ditempuhnya sekarang.
Tapi, dari proses pembelajaranku juga, aku menyimpulkan bahwa anakku lah yang paling berhak memperoleh hasil proses pembelajaran ini.
Anakku harus belajar sesuatu dariku. Aku yakin itulah mengapa Allah menetapkan anakku sebagai anakku, bukan anak orang lain. Sebagaimana aku sengaja atau tak sengaja belajar dari orangtuaku, dari apa yang mereka lakukan, dari apa yang terjadi pada mereka, anakku akan melakukan hal yang sama. Dia akan mempelajariku secara proaktif.
Anggaplah ada tiga generasi, X, Y dan Z. Generasi X mampu mengisi hidupnya dengan sesuatu yang bermakna setelah hidup selama 50 tahun. Generasi Y, belajar dari generasi X, mempercepat proses tersebut dengan mulai pada umur 30 tahun. Dan jika generasi Y langsung mentransfer semua proses pembelajarannya, generasi Z mungkin dapat mulai menyadari arti hidup pada usia 17 tahun.

Aku tetap beranggapan bahwa ada hal-hal yang harus dicari sendiri oleh seseorang. Nikmat iman misalnya, sulit untuk ditransfer. Seseorang harus melalui suatu proses untuk mendapatkannya. Tapi tidak berarti sebagai orangtua kita cukup bersikap pasif. Bagaimanapun keluarga adalah sekolah pertama seorang anak. Bukan hanya sekolah pertama, menurutku keluarga adalah sekolah tanpa henti. Seseorang dapat terus belajar dari keluarganya bahkan sampai dia memiliki keluarga sendiri. Orangtua dapat membantu mengenalkan dan membiarkan segala sesuatu mengalir, dengan pengawasan.

Karena itulah aku mulai menulis warisan ini. Warisan untuk anakku, yang aku yakin jauh lebih berharga daripada warisan dalam bentuk harta. Aku ingin suatu hari anakku bisa membaca dan mengambil hikmah dari semua yang aku tulis. Anakku bisa mengambil apa yang dia percayai baik, dan tinggalkan apa yang menurutnya ada jalan lain yang lebih baik. Aku hanya menulis hasil belajarku. Siapapun berhak melalui proses pembelajarannya sendiri dan mengambil kesimpulan yang berbeda.

Bukan berarti aku menulis khusus untuk anakku sehingga tak ada siapa pun berhak membaca. Seperti halnya aku memperoleh banyak pencerahan dari buku-buku yang kubaca, aku akan sangat tersanjung bila tulisanku bisa mendatangkan sedikit pelajaran bagi siapapun yang membaca. Bila ada yang tidak menyetujui apa yang aku sampaikan, bukankah hidup jadi tidak menarik bila segala sesuatu berjalan “exactly” seperti yang kita mau?

2 Comments:

Blogger Ratusya said...

salam kenal yaa! i've read some of your books and they are nice :D

6:19 AM  
Blogger Fii 3xy said...

halo mba salam kenal:)
add my blog ya di http://ovitrilogy.blogspot.com
http://ovi-tri.blogspot.com

terimakasih

12:56 AM  

Post a Comment

<< Home